Kecil mungil melekat pada diriku. Dua tahun setelah keluar dari rahim malaikat duniaku. Kulit coklat dengan rambut acak layaknya anak cowok. Hampir setiap hariku, terlewati untuk bermain di luar rumah. Sangat bandel dan gesit biasanya mereka menyebut aku anak tomboy. Hingga tiga tahun berlalu. Sifatku yang gesit dan bendel terganti dengan pendiam dan penakut. Layaknya seorang anak yang dijahati seseorang. Namun, bukan seseorang. Lebih tepatnya sesuatu yang transparan.
Awal aku sekolah di taman kanak-kanak. Bukan TK, lebih tepatnya Roudhotul Athfal (RA). Ibu mengantarku dengan mengayuh sepeda onta. Kenapa kamu tak naik sendiri seperti teman-temanmu?. Pertanyaan yang sungguh menyakitkan. Aku takut dengan perkakas itu. Sebenarnya aku ingin bisa tapi rasa trauma itu yang membuatku berhenti mencoba.
>flashback<
Satu tahun lalu, aku di belikan sepeda onta kecil. Berwarna merah sesuai dengan warna kesukaanku. Aku semangat sekali memperlajarinya. Bahkan aku terus merengek pada ayah utk mengajariku menaiki sepeda itu. "Sudahlah, kau belajarlah sendiri dulu, kalau ayah sudah nggak sibuk pasti ayah ajari kamu sampai bisa." Begitu tuturnya dengan tenang. Aku hanya mendesah kesal.
Suatu hari entah mimpi apa aku semalam. Akhirnya hari itu aku belajar sepeda bersama ayah. Dia mengajariku hingga aku benar" bisa dan berani untuk mengayuh sendiri. Dan keesokan harinya aku kembali berlatih sendiri dengan di awasi oleh ibu. Sepeda mulai ku kayuh dengan perlahan dan mataku kembali menatap suatu sosok yang aneh, duduk disamping ibuku. Dan akhirnya konsentrasi hilang, tubuhku sepeda menabrak sesuatu, akupun terpental jauh dan kepalaku menabrak tumpukkan pecahan batu dan genteng. Sudut pecahan genteng itu menembus dahiku. Darah bercucuran. Tangan gemetar. Sekilas aku melihatnya tersenyum kearahku dan suara teriakan ibu terdengar menuju arahku. Selepas itu aku tak ingat apapun hanya pusing yang bisa kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sepanjang siang.
>seleaai<
Semenjak saat itu aku berubah menjadi cewek penakut. Kata tomboy tak lagi melekat pada jiwaku. Dan trauma itu tetap setia menghantui layaknya dia yang selalu muncul saat aku sedang kosong pikiran. Masa kecil terlewati dengan trauma yang begitu amatir. Hingga berimbas pada sifat pendiamku dan nilai raport ku. Guru selalu berkata lewat tulisannya "jangan malu bertanya, maka kamu akan bīerhasil".
Goresan luka memang tak dapat hilang secara sempurna namun, rasa takut mampu hilang seiring jiwa yang mulai terasah pada keberan

Komentar
Posting Komentar