Kala itu, bukan aku tempramental. Tapi karna si brengsek itu mencoba rasa pipi ku. Sebelum melakukan aksinya lebih dulu aku menampar pipi tirus itu "plak". Ia meringis kesakitan. Ingin mengadu, lirikan mata ku menghalangi. Akhirnya ia beranjak pergi dan meninggalkan ku seorang diri. Sempat aku ingin bantik hpnya yg ditangan ku. Beruntungnya aku berhasil mengontrol jiwa buruk itu. Setelah beberapa menit ia kabur dari pandangan ku. Dari kejauhan terdengar langkah kaki yg buruk dengan desahan nafas yg besar. "Cih...ngapain juga balik" ujar ku dalam hati masih geram ingin memukulnya lebih keras lagi. "Nih buat kamu, ayok pulang!" Katanya sambil mengulurkan bingkisan ditangan dengan nada sedikit tinggi seakan aku musuhnya. "Hmmm" kata ku singkat dan segera mengambil bingkisan itu dan berjalan cepat menuju parkiran. Sampai di rumah, beburu aku masuk kamar dan meninggalkan bingkisan itu di meja. Aku tidak peduli dia mau mampir bertemu mereka atau tida...
Batik hijau dengan motif khas Bojonegoro, lengkap dengan veste alba dan jilbab putih yang melekat menutupi aurotku. "Sarapannya di dapur, ambil sendiri dan makanlah cepat!" Teriak ibu dari arah halaman bersama sapu lidi yang setia. Tanpa membalas sepatah katapun, aku bergegas pergi dan makan. Setelah di kira cukup dengan semua persiapan dari sarapan, buku pelajaran, dan sepeda baru. Aku segera beranjak dan berpamit. Ku kayuh sepeda dengan penuh peluh. Rumah kedua yang tersungkur diujung desa dan jalanan yang berpunggung batu. Sampai pada bilik persegi dengan keramik kumuh yang kuno. Bangku berjajar tak berpenghuni. Aku melakukan tanggung jawabku setiap rabu dengan tembok tak berwarna menjadi saksi apakah aku korupsi atau mencuri. Waktu berjalan sambil berlari. Ilmu demi ilmu terlewati dengan senyum ramah para ahli, sedangkan kami...peluh menghampiri. Matematika selalu menjadi musuh bebuyutan siswa-siswi. Kini aku berada pada titik jenuh pembelajaran. Pepatah mengatakan ...