Langsung ke konten utama

Sekali Menyala, Membakar Semuanya

Kala itu, bukan aku tempramental. Tapi karna si brengsek itu mencoba rasa pipi ku. Sebelum melakukan aksinya lebih dulu aku menampar pipi tirus itu "plak". Ia meringis kesakitan. Ingin mengadu, lirikan mata ku menghalangi. Akhirnya ia beranjak pergi dan meninggalkan ku seorang diri. Sempat aku ingin bantik hpnya yg ditangan ku. Beruntungnya aku berhasil mengontrol jiwa buruk itu. Setelah beberapa menit ia kabur dari pandangan ku. Dari kejauhan terdengar langkah kaki yg buruk dengan desahan nafas yg besar. "Cih...ngapain juga balik" ujar ku dalam hati masih geram ingin memukulnya lebih keras lagi. "Nih buat kamu, ayok pulang!" Katanya sambil mengulurkan bingkisan ditangan dengan nada sedikit tinggi seakan aku musuhnya. "Hmmm" kata ku singkat dan segera mengambil bingkisan itu dan berjalan cepat menuju parkiran.

Sampai di rumah, beburu aku masuk kamar dan meninggalkan bingkisan itu di meja. Aku tidak peduli dia mau mampir bertemu mereka atau tidak. Aku banting semua benda yg ada di kamar. Dengan peluh air mata mengalir tanpa mengeluarkan suara desahan. Karna aku mengikat mulutku dengan kain dan menggigitnya. Agar mereka tidak tau, jika putrinya disakiti oleh orang lain. Seperti biasa air mata ku habis tinggal mata yg menonjolkan kesedihan dengan sayup-sayup cahaya yang redup. Aku terlelap diatas kasur masih dengan hijab dan tempat yg acak-acakan.

Aku terbangun saat adzan Ashar berkumandang. Aku segera mencuci muka di kamar mandi dan membereskan kamar tidur agar rapi. Aku tidak mandi? Benar, tubuh ku seketika meriang, flu ringan mendadak menyerang serta tenggorokan serasa nyeri dan gatal. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak kemana-mana malam itu. Mengurung diri di kamar tanpa membuka ponsel kuno ku.

Pagi buta aku terbangun dengan wajah yang lebih segar dan cahaya mata yg bersinar. Flu itu sudah pergi beserta teman-temannya. Aku berangkat sekolah sangat pagi mengingat harus upacara sebelum pelajaran dibuka. Ia tak muncul lagi di depan ku, di kelas juga tidak ada. Aku masa bodoh. Tiba-tiba temen sebangkunya bilang "hey, ***** sakit...kamu gak mau jenguk?". "Percuma gue jenguk...gue bukan dokter" sahut ku dengan judes. Aku membuka laptop ku yg tersambung dengan wifi sekolah. Ternyata ada 15 pesan masuk dari nya. Ku baca dari awal sampai akhir isinya hanya minta maaf. Basi sih laki-laki minta maaf tapi diulangin terus kesalahan yang sama. Daripada pusing, tanpa ragu aku balas dengan "aku wanita bukan boneka, aku mau kita selesai sampai disini. Mulai sekarang kita hanya teman bukan pacar". Selesai sudah hubungan ku tanpa ada keterangan panjang setelah membaca pesan ku, ia langsung nge-blok nomor, akun fb, akun ig, dan semua foto yg pernah kita unggah di medsos. Ganas nya kelihatan tanpa harus diomongkan😏

Komentar