Batik hijau dengan motif khas Bojonegoro, lengkap dengan veste alba dan jilbab putih yang melekat menutupi aurotku. "Sarapannya di dapur, ambil sendiri dan makanlah cepat!" Teriak ibu dari arah halaman bersama sapu lidi yang setia. Tanpa membalas sepatah katapun, aku bergegas pergi dan makan. Setelah di kira cukup dengan semua persiapan dari sarapan, buku pelajaran, dan sepeda baru. Aku segera beranjak dan berpamit. Ku kayuh sepeda dengan penuh peluh. Rumah kedua yang tersungkur diujung desa dan jalanan yang berpunggung batu.
Sampai pada bilik persegi dengan keramik kumuh yang kuno. Bangku berjajar tak berpenghuni. Aku melakukan tanggung jawabku setiap rabu dengan tembok tak berwarna menjadi saksi apakah aku korupsi atau mencuri. Waktu berjalan sambil berlari. Ilmu demi ilmu terlewati dengan senyum ramah para ahli, sedangkan kami...peluh menghampiri. Matematika selalu menjadi musuh bebuyutan siswa-siswi. Kini aku berada pada titik jenuh pembelajaran. Pepatah mengatakan "malu bertanya sesat di jalan" seakan terlintas begitu saja dalam benakku...aku beranjak dari tempat dudukku yang paling mistis. Aku menghampiri sang ahli untuk menanyakan hal yang mengusik pikiran ku sejak tugas ini di amanahkan. Tiba-tiba, lantai menjadi licin. Sole sepatu yang sudah menipis tak mampu menahan keseimbangan tubuhku. Dan terdampar di lantai tubuh mungil ini, lubang hidung mengalirkan darah. Terlonjak semua seisi ruangan, aku segera dibawa ke ruang paling mistis di sekolahan ini. Mengerikan, tapi aku tak mampu melawan untuk tidak masuk ke ruangan ini. Darah itu terus mengalir, semakin lama semakin sedikit dan akhirnya berhenti. Namun, pusing kepalaku masing mengelabuhi fokus mata ini. Akhirny, ku beranikan izin dan pulang, tanpa melanjutkan pembelajaran berikutnya. Aku pulang dengan tas yang setia dipundakku, namun ada yang beda. Kepulangan ku bukan sendiri, tapi bersama dia. Tas yang sudah nyaman ku gendong, tapi dia mengganggu kenyamanan. Tangannya meraih tas itu dan membawakan untukku. Ini pertama kalinya aku berada dekat sekali. Mataku menatap tepat matanya saat dia meminta untuk naik di saddle belakang sepeda itu. Segara aku sadarkan diriku dan naik sesuai perintahnya. Apakah ini haram?

Komentar
Posting Komentar